Selasa, 22 September 2020

REPRODUKSI DAN PERANAN EUBACTERIA

Reproduksi Eubacteria

Bakteri dapat berkembang biak secara vegetatif (aseksual) maupun generatif (seksual)

Reproduksi secara Aseksual

Bakteri dapat berkembang biak secara aseksual dengan membelah diri (pembelahan biner) pada lingkungan yang tepat atau sesuai. Reproduksi bakteri dapat berlangsung dengan sangat cepat. Pada keadaan optimal, beberapa jenis bakteri dapat membelah setiap 20 menit. Anda bisa menghitung jumlah bakteri hasil reproduksi dalam waktu 1 jam atau  1 hari, dengan rumus 2n (n jumlah pembelahan).


Pada kondisi yang kurang menguntungkan, sel-sel bakteri dapat mempertahankan diri dengan pembentukan spora (endospora). Endospora artinya spora yang terbentuk di dalam bakteri. Akan tetapi, ada pula jenis bakteri yang akan mati karena perubahan faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini adalah cahaya matahari yang terus-menerus, kenaikan suhu, kekeringan, dan adanya zat-zat penghambat dan pembunuh bakteri, seperti antibiotika dan desinfektan.


Reproduksi secara Seksual

Bakteri tidak melakukan pembiakan seksual yang sebenarnya, seperti yang terjadi pada makhluk hidup eukariot, karena bakteri tidak mengalami penyatuan sel kelamin. Meskipun demikian, pada bakteri terjadi pertukaran materi genetik dengan sel pasangannya. Oleh karena itu, perkembangbiakan bakteri yang terjadi dengan cara ini disebut perkembangbiakan paraseksual. Perkembangbiakan parasekual bakteri dapat terjadi dengan tiga cara, yaitu transformasi, konjugasi, dan transduksi.

  • Transformasi, adalah pemindahan potongan materi genetik atau DNA dari luar ke sel bakteri penerima. Dalam proses ini, tidak terjadi kontak langsung antara bakteri pemberi DNA dan penerima. Contoh : Streptococcus pneumonia, Bacillus, Haemopphilus, Neisseria dan Pseudomonas.


    Transformasi

  • Konjugasi, yaitu pertukaran materi genetik dengan cara membentuk bangunan/ jembatan/selubung untuk menyalurkan materi genetiknya, atau reproduksi bakteri yang belum diketahui jenis kelaminnya.

    Konjugasi1

  • Transduksi, adalah pemindahan DNA dari sel pemberi ke sel penerima dengan perantaraan virus. Dalam hal ini, protein virus yang berfungsi sebagai cangkang digunakan untuk pembungkus dan membawa DNA bakteri pemberi menuju sel penerima.

    Transduksi

  • Peranan Eubacteria Kehidupan Manusia

    Peran menguntungkan
    Peranan Eubacteria yang menguntungkan antara lain:

    1. Pembusukan (penguraian) sisa-sisa makhluk hidup. Contohnya adalah Escherichia coli.

    2. Pembuatan makanan dan minuman hasil fermentasi. Contohnya adalah Acetobacter pada pembuatan asam cuka, Lactobacillus bulgaricus pada pembuatan yoghurt, Acetobacter xylinum pada pembuatan Nata de Coco dan Lactobacillus casei pada pembuatan keju dan yoghurt.


    3. Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen, yaitu Rhizobium leguminosorum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman kacang-kacangan dan Azotobacter chlorococcum.


    4. Penyubur tanah. Contohnya adalah Nitrosococcus dan Nitrosomonas yang berperan dalam proses nitrifikasi, menghasilkan ion nitrat yang dibutuhkan tanaman.


    5. Penghasil antibiotik. Contohnya adalah Bacillus polymyxa penghasil antibiotik polymxyn B untuk pengobatan infeksi bakteri Gram negatif, Bacillus subtillis penghasil antibiotik untuk pengobatan infeksi bakteri Gram positif, Streptomyces griseus penghasil antibiotik streptomisin untuk pengobatan bakteri gram negatif termasuk bakteri penyebab TBC dan Streptomyces rimosus penghasil antibiotik tetrasiklin untuk berbagai infeksi bakteri.


    6. Penelitian rekayasa genetika dalam berbagai bidang. Sebagai contoh, dalam bidang kedokteran dihasilkan obat-obatan dan produk kimia bermanfaat yang disintesis oleh bakteri, misalnya enzim, vitamin dan hormon.


    7. Pembuatan zat kimia, misalnya aseton dan butanol oleh Clostridium aceto-butylicum.

    8. Penghasil biopestisida, yaitu pestisida yang dihasilkan oleh makhluk hidup, seperti yang dihasilkan oleh Bacillus thuringiensis.

    Peran merugikan
    Peranan Eubacteria yang merugikan antara lain:

    • Pembusukan makanan. Contohnya Clostridium botulinum.
    • Penyebab penyakit pada manusia. Contohnya Mycobacterium tuberculosis (penyebab penyakit TBC), Vibrio cholera (penyebab penyakit kolera atau muntaber), Clostridium tetani (penyebab penyakit tetanus) dan

    • Mycobac-terium (penyebab penyakit lepra).

    • Penyebab penyakit pada hewan. Contohnya Bacillus anthraxis (penyebab penyakit antraks pada sapi).

    • Penyebab penyakit pada tanaman budidaya. Contohnya Pseudomonas solanacearum (penyebab penyakit pada tanaman tomat, lombok, terung dan tembakau), serta Agrobacterium tumafaciens (penyebab tumor pada akar tanaman).


    • Penyebab penyumbatan pipa air yang terbuat dari besi. Bakteri ini dikenal sebagai bakteri besi karena dapat mengubah senyawa besi yang terlarut di dalam air menjadi senyawa berbentuk endapan, sehingga dapat menyum-bat aliran air dalam pipa besi.


    • Penyebab keroposnya pipa-pipa besi. Bakteri yang menyebabkan hal ini adalah bakteri sulfur, karena ia mampu mengubah pipa-pipa besi menjadi asam sulfat.

  • EUBACTERIA

     

    Pengertian Eubacteria

    Secara umum, pengertian Eubacteri (bakteri) adalah organisme uniseluler (bersel satu) dengan tidak memiliki membran inti sel(prokariotik) yang umumnya tidak berklorofil pada dinding selnya. Istilah Eubacteria berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata eu, yang berarti sejati. Eubacteria meliputi sebagian besar organisme prokariotik yang hidup dimanapun (kosmolipit). Eubacteria disebut juga dengan Bacteria atau bakteri. Istilah bakteri berasal dari bacterion yang artinya batang kecil. Pertama kali bakteri ditemukan pada tahun 1674, oleh seorang ilmuwan belanda yaitu Antony van Leuuwenhoek yang juga seorang penemu mikroskop lensa tunggal. Istilah bakteri diperkenalkan oleh Ehrenberg pada tahun 1828. Ilmu yang mempelajari bakteri disebut dengan bakteriolog.


    Eubacteria adalah organisme bersel tunggal mikroskopis. Eubacteria kadang-kadang disebut sebagai “bakteri sejati,” membedakannya dari Archaeobacteria, organisme yang serupa dengan beberapa perbedaan genetik dan gaya hidup yang signifikan. Sebagian besar organisme yang kita anggap sebagai “bakteri” adalah Eubacteria, dari sepupu Arkean mereka lebih memilih hidup di lingkungan yang ekstrim seperti pembangkit listrik tenaga nuklir dan ventilasi hidrotermal.


    Dalam rangka untuk menyelidiki definisi Eubacteria, pertama-tama perlu untuk membahas detail dari klasifikasi ilmiah. Eubacteria berada di jantung perdebatan serius dalam klasifikasi ilmiah yang membentuk kembali hirarki tradisional “Kingdom, Filum, Kelas, Ordo, Famili, Genus, dan Spesies.” Awalnya, Eubacteria dianggap bagian dari kerajaan Prokaryota, kadang-kadang disebut “Monera,” bersama dengan kerabat mereka yang Archaebacteria.


    Organisme prokariotik seperti bakteri terutama ditentukan oleh ketiadaan inti sel. Hal ini membuat mereka berbeda dari evolusi organisme hidup lainnya, dan telah menyebabkan sejumlah adaptasi yang inovatif. Banyak prokariota juga bersel tunggal, meskipun hal ini tidak selalu merupakan persyaratan untuk keanggotaan pada kerajaan ini. Selain kerajaan Prokaryota, ahli biologi juga diklasifikasikan organisme dalam Animalia, Fungi, Plantae, dan Protista.

    Jenis-Jenis Eubacteria (Bakteri)

    Eubacteria memiliki beragam jenis yang dikelompokkan dalam karekteristik dinding sel, berdasarkan jumlah letak dan flagela, berdasarkan cara hidup antara lain sebagai berikut..


    1. Jenis-Jenis Eubacteria (Bakteri) Berdasarkan Karakteristik Dinding Sel
      • Bakteri Gram Negatif
      • Bakteri Gram Positif
      • Bakteri Tidak Berdinding Sel


    2. Jenis-Jenis Eubacteria (Bakteri) Berdasarkan Jumlah dan Letak Flagela
      • Bakteri monotrik
      • Bakteri amfitrik
      • Bakteri lofotrik
      • Bakteri peritrik


    3. Jenis-Jenis Eubacteria (Bakteri) Berdasarkan Cara Hidup
      • Bakteri heterotrof
      • Bakteri Autotorf


    Ciri-Ciri Eubacteria (Bakteri) 

    Kelompok kedua prokariota ialah nama yang lebih akrab bagi anda, kerajaan Eubacteria ialah bakteri yang sejati. Mereka memiliki peran yang tak terhitung jumlahnya, termasuk dekomposisi dan daur ulang nutrisi, pencernaan dan penyakit. Ciri-ciri umum eubacteria ialah sebagai berikut:


    • Umumnya tidak berklorofil
    • Bentuk yang bervariasi
    • Tidak memiliki membran inti atau prokariotik
    • Berukuran antara 1 s/d 5 mikron
    • Hidupnya secara parasit atau bebas (kosmolipit) / patogen
    • Bersifat uniseluler (bersel satu)
    • Eubacteria ialah organisme uniseluler prokariotik.
    • Eubacteria dinding sel yang tersusun atas peptidoglikan (gula dan protein).
    • Ukuran tubuh Eubacteria sekitar 1-5 mikron.
    • Eubacteria berkembang biak dengan cara membelah diri, konjugasi, transformasi dan transduksi (pemindahan sebagian materi genetik melalui perantara virus).
    • Eubacteria dapat mensekresikan lendir ke permukaan dinding sel membentuk kapsul.
    • Ada Eubacteria yang memiliki flagel dan ada juga Eubacteria yang tidak memiliki flagel.
    • Eubacteria hidup kosmopolitan artinya dapat hidup di segala tempat, misalnya di darat, udara, air, bahkan tubuh manusia.
    • Apabila berada di lingkungan yang kurang menguntungkan Eubacteria akan membentuk endospora.

    Pada Eubacteria ada yang memiliki klorofil ada pula Eubacteria yang tidak berklorofil. Eubacteria sering terlibat dalam hubungan simbiosis dengan organisme lain. Ini merupakan interaksi yang erat antara dua spesies yang berbeda.


    Contoh dari hubungan simbiosis antara bakteri yang hidup dalam usus kita dan membantu kita untuk mendapatkan nutrisi yang kita butuhkan serta bakteri yang memperbaiki nitrogen dari atmosfer sehingga tanaman dapat menggunakannnya. Dan untuk dapatk negatif pada bakteri ini terhadap kehidupan kita ialah bahwa mereka bertanggung jawab untuk sekitar setengah dari semua penyakit manusia. Hal ini karena beberapa bakteri menghasilkan racun yang dapat membahayakan organisme lain.


    Untungnya kita dapat menggunakan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri. Atibiotik bekerja dengan membunuh bakteri, namun mereka harus khusus untuk beberapa jenis bakteri dan digunakan dengan benar. Karena bakteri dapat berkembang dengan sangat cepat mereka kadang-kadang bisa menjadi kebal terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik ini adalah mengapa beberapa antibiotik yang biasa digunakan tidak lagi digunakan, mereka tidak lagi efektif dalam membunuh bakteri. Contoh penyakit yang disebabkan oleh bakteri termasuk penyakit Lyme, kolera dan radang tenggorokan.


    Minggu, 06 September 2020

    Proses dan Alat Budidaya Tanaman Pangan 1

     Budidaya tanaman pangan  dilakukan pada hamparan lahan. Teknik budidaya yang digunakan sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya. Di bawah ini adalah serangkaian proses dan teknik budidaya tanaman pangan.

    1. Pengolahan Lahan 

    Pengolahan lahan dilakukan untuk menyiapkan lahan sampai siap ditanami.  Pengolahan dilakukan dengan cara dibajak atau dicangkul lalu dihaluskan hingga gembur. Pembajakan dapat dilakukan dengan cara tradisional ataupun mekanisasi.

    Standar penyiapan lahan 

    a. Lahan petani yang digunakan harus bebas dari pencemaran limbah beracun. 

    b. Penyiapan lahan/media tanam dilakukan dengan baik agar struktur tanah menjadi gembur dan beraerasi baik sehingga perakaran dapat berkembang secara optimal. 

    c. Penyiapan lahan harus menghindarkan terjadinya erosi permukaan tanah, kelongsoran tanah, dan atau kerusakan sumber daya lahan. 

    d. Penyiapan lahan merupakan bagian integral dari upaya pelestarian sumber daya lahan dan sekaligus sebagai tindakan sanitasi dan penyehatan lahan. 

    e. Apabila diperlukan, penyiapan lahan disertai dengan pengapuran, penambahan bahan organik, pembenahan tanah (soil amelioration), dan atau teknik perbaikan kesuburan tanah. 

    f. Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara manual maupun dengan alat mesin pertanian. 

    2. Persiapan Benih dan Penanaman Benih yang akan ditanam sudah disiapkan sebelumnya. 

    Umumnya, benih    tanaman pangan ditanam langsung tanpa didahului dengan penyemaian, kecuali untuk budidaya padi di lahan sawah.  Pilihlah  benih  yang memiliki vigor (sifat-sifat benih) baik serta tanam sesuai dengan jarak tanam yang dianjurkan untuk setiap jenis tanaman pangan!  Benih ditanam dengan cara ditugal (pelubangan pada tanah) sesuai  jarak tanam yang dianjurkan untuk setiap tanaman. 

     Standar penanaman 

    a. Penanaman benih atau bahan tanaman dilakukan dengan mengikuti teknik budidaya yang dianjurkan dalam hal jarak tanam dan kebutuhan benih per hektar yang disesuaikan dengan persyaratan spesifik bagi setiap jenis     tanaman, varietas, dan tujuan penanaman. 

    b. Penanaman dilakukan pada musim tanam yang tepat atau sesuai dengan jadwal tanam dalam manejemen produksi tanaman yang bersangkutan. 

    c. Pada saat penanaman, diantisipasi agar tanaman tidak menderita cekaman kekeringan, kebanjiran, tergenang, atau cekaman faktor abiotik lainnya. 

    d. Untuk menghindari serangan OPT pada daerah endemis dan eksplosif, benih atau bahan tanaman dapat diberi perlakuan yang sesuai sebelum ditanam.

     

     Dilakukan pencatatan tanggal penanaman pada buku kerja, guna memudahkan jadwal pemeliharaan, penyulaman, pemanenan, dan hal-hal lainnya. Apabila benih memiliki label, label harus disimpan.

    3. Pemupukan Pemupukan bertujuan memberikan nutrisi yang cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 
    Pemupukan dilakukan setelah benih ditanam. Pupuk dapat diberikan sekaligus pada saat tanam atau sebagian diberikan saat  tanam dan sebagian lagi pada beberapa minggu setelah tanam. Oleh karena itu, pemupukan harus dilakukan dengan tepat baik cara, jenis, dosis dan waktu aplikasi. 
     Standar pemupukan 
    a. Tepat waktu, yaitu diaplikasikan sesuai dengan kebutuhan, stadia tumbuh tanaman, serta kondisi lapangan yang tepat. 
    b. Tepat dosis, yaitu Jumlah yang diberikan sesuai dengan anjuran/rekomendasi spesifik lokasi. 
    c. Tepat cara aplikasi, yaitu disesuaikan dengan jenis pupuk, tanaman dan kondisi lapangan.

     Pemberian pupuk mengacu pada hasil analisis kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) setempat: 
    a. Penyemprotan pupuk cair pada tajuk tanaman (foliar sprays) tidak boleh meninggalkan residu zat-zat kimia berbahaya pada saat tanaman dipanen. 
    b.  Mengutamakan penggunaan pupuk organik serta disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi fisik tanah. 
    c. Penggunaan pupuk tidak boleh mengakibatkan terjadinya pencemaran air baku (waduk, telaga, embung, empang),  atau air tanah dan sumber air. 
    d. Tidak boleh menggunakan limbah kotoran manusia yang tidak diberikan perlakuan.



    Proses dan Alat Budidaya Tanaman 2

     4. Pemeliharaan 

    Kegiatan pemeliharaan meliputi penyulaman, penyiraman, dan pembumbunan. Penyiraman dilakukan untuk menjaga agar tanah tetap lembab. Penyulaman adalah kegiatan menanam kembali untuk mengganti benih yang tidak tumbuh atau tumbuh tidak normal.  Pembumbunan dilakukan  untuk menutup pangkal batang dengan tanah.

    Standar pemeliharaan tanaman 
    a. Tanaman pangan harus dipelihara sesuai karakteristik dan kebutuhan spesifik tanaman agar dapat tumbuh dan berproduksi optimal serta menghasilkan produk pangan bermutu tinggi. 
    b. Tanaman harus dijaga agar terlindung dari gangguan hewan  ternak, binatang liar, dan/atau hewan lainnya.

    5. Pengendalian OPT (Organisme pengganggu tanaman) 
    Pengendalian OPT harus disesuaikan dengan tingkat serangan.  Pengendalian OPT dapat dilakukan secara manual maupun dengan pestisida.  Jika menggunakan pestisida, pengendalian harus dilakukan dengan tepat jenis, tepat mutu, tepat dosis, tepat konsentrasi/dosis, tepat waktu, tepat sasaran (OPT target dan komoditi), serta tepat cara dan alat aplikasi.

    Penggunaan pestisida harus diusahakan untuk memperoleh manfaat yang sebesarnya dengan dampak sekecil-kecilnya. Penggunaan pestisida harus sesuai standar berikut ini. 
    a. Penggunaan pestisida memenuhi 6 (enam) kriteria tepat serta memenuhi ketentuan baku lainnya sesuai dengan “Pedoman Umum Penggunaan Pestisida”, yaitu tepat jenis, tepat mutu, tepat dosis, tepat konsentrasi/dosis, tepat waktu, tepat sasaran (OPT target dan komoditi), serta tepat cara dan alat aplikasi. 
    b. Penggunaan pestisida diupayakan seminimal mungkin meninggalkan residu pada hasil panen, sesuai dengan “Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian Nomor 881/Menkes/SKB/VIII/1996 dan 771/Kpts/TP.270/8/1996 tentang Batas Maksimum Residu Pestisida pada Hasil Pertanian”. 
    c. Mengutamakan penggunaan petisida hayati, pestisida yang mudah terurai dan pestisida yang tidak meninggalkan residu pada hasil panen, serta pestisida yang kurang berbahaya terhadap manusia dan ramah lilngkungan. 
    d. Penggunaan pestisida tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan pekerja (misalnya dengan menggunakan pakaian perlindungan) atau aplikator pestisida. 
    e. Penggunaan pestisida tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup terutama terhadap biota tanah dan biota air. 
    f. Tata cara aplikasi pestisida harus mengikuti aturan yang tertera pada label. 
    g. Pestisida yang residunya berbahaya bagi manusia tidak boleh diaplikasikan menjelang panen dan saat panen. 

    Berdasarkan standar  pengendalian OPT, pencatatan penggunaan pestisida harus dilakukan. 
    a. Pestisida yang digunakan dicatat jenis, waktu, dosis, konsentrasi, dan cara aplikasinya. 
    b. Setiap penggunaan pestisida harus selalu dicatat yang mencakup nama pestisida, lokasi, tanggal aplikasi, nama distributor/kios, dan nama penyemprot (operator). 
    c. Catatan penggunaan pestisida minimal digunakan 3 tahun.

    6. Panen dan Pascapanen 
    Panen adalah tahap terakhir dari budidaya tanaman pangan. Setelah panen hasil panen akan memasuki tahapan pascapanen.
     Standar panen 
    a. Pemanenan harus dilakukan pada umur/waktu yang tepat sehingga mutu hasil produk tanaman pangan dapat optimal pada saat dikonsumsi. 
    b. Penentuan saat panen yang tepat untuk setiap komoditi tanaman pangan mengikuti standar yang berlaku.
    c. Cara pemanenan tanaman pangan harus sesuai dengan teknik dan anjuran baku untuk setiap jenis tanaman sehingga diperoleh mutu hasil panen yang tinggi, tidak rusak, tetap segar dalam waktu lama, dan meminimalkan tingkat kehilangan hasil. 
    d. Panen bisa dilakukan secara manual maupun dengan alat mesin pertanian. 
    e. Kemasan (wadah) yang akan digunakan harus disimpan (diletakkan) di tempat yang aman untuk menghindari terjadinya kontaminasi.

    Standar pasca panen 
    a. Hasil panen tanaman pangan disimpan di suatu tempat yang tidak lembab. 
    b. Untuk hasil tanaman pangan yang memerlukan perontokan dan penggilingan dapat dilakukan secara manual maupun dengan alat mesin pertanian.

    Alat-alat maupun mesin untuk budidaya diperlukan untuk mempermudah dan mempercepat   setiap tahapan dalam budidaya tanaman.  Peralatan maupun mesin budidaya digunakan untuk kegiatan pengolah tanah, penanaman, pemeliharaan dan panen.
     Standar alat 
    a. Untuk usaha budidaya tanaman pangan perlu disediakan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang sesuai dengan kebutuhan tanaman pangan, meliputi alat prapanen (budidaya) dan alat pascapanen (pengelolaan hasil). 
    b. Penggunaan alsintan prapanen dan pascapanen harus dilakukan secara tepat sehingga tidak berdampak terhadap pemadatan tanah, erosi tanah, pelongsoran tanah, atau kerusakan tanah serta tidak berdampak negatif terhadap hasil tanaman maupun sosial ekonomi masyarakat. 
    c. Peralatan dan mesin pertanian perlu dijaga dan dirawat dengan baik. 

    Sabtu, 05 September 2020

    SOAL DAN PEMBAHASAN SOAL ULANGAN METABOLISME

     1. 

    2. 
    3. 
    4. 
    5. 
    6. 
    7. 
    8. 
    9. 

    10. 

    11. Fermentasi asam laktat ditandai dengan tidak terbentuknya...

    A. ATP
    B. CO2
    C. NADH2
    D. Panas
    E. NADPH2

    Jawaban : E
    •    Glikolisis pada sel hewan / manusia yang tidak diikuti dengan suplai oksigen ke dalam sel dapat membentuk asam laktat yang akan menyebabkan rasa pegal pada otot. Fermentasi asam laktat ditandai dengan terbentuknya ATP, CO2, NADH2, dan panas.

    12. Definisi dari respirasi anaerob adalah …

    A. Reaksi oksidatif senyawa anorganik secara terkendali untuk membebaskan energi
    B. Reaksi oksidatif senyawa anorganik secara tidak terkendali dengan bantuan energi
    C. Reaksi oksidatif senyawa organik secara terkendali dengan membebaskan energi
    D. Reaksi oksidatif senyawa anorganik secara tidak terkendali dengan membebaskan energi.
    E. Reaksi oksidatif senyawa organik secara terkendali dengan membutuhkan energi


    Jawaban: C
    •    Respirasi anaerob adalah reaksi pemecahan karbohidrat (organik) untuk memperoleh energi tanpa menggunakan oksigen sebagai akseptor hidrogennya.

     

    13. Proses yang digambarkan pada persamaan reaksi dibawah ini adalah …

    Glukosa -----> asam laktat + ATP

    A. anabolisme
    B. fermentasi
    C. fotosintesis
    D. kemosintesis
    E. sintesis senyawa lain


    Jawaban: B
    •    Pada kondisi anaerobik (tidak tersedia oksigen), suatu sel akan dapat mengubah asam piruvat menjadi CO2 dan etil alkohol serta membebaskan energi (ATP). Atau oksidasi asam piruvat dalam sel otot menjadi CO2 dan asam laktat serta membebaskan energi. Bentuk proses reaksi yang terakhir disebut, lazim dinamakan fermentasi.

     

    14. Jenis respirasi yang dilakukan oleh Sacharomyces sp atau khamir adalah …

    A. respirasi aerob
    B. respirasi anaerob
    C. fermentasi alkohol
    D. fermentasi asam laktat
    E. proses menghasilkan peroksida


    Jawaban: C
    •    Fermentasi Alkohol pada umumnya dilakukan oleh khamir (ragi) dari jenis Saccharomyces. Fermentasi alkohol digunakan dalam proses pembuatan tapai ketan, tapai singkong, bir, tuak dan anggur.

     

    5. Fermentasi yang menghasilkan zat antara berupa CO2 adalah …

    A. Alcohol
    B. Laktat
    C. Asetat
    D. Aspartat
    E. Cuka


    Jawaban: A
    •    Berdasarkan hasil reaksi fermentasi alkohol:
             2CH3COCOOH ----------> 2CH3CH2OH + 2CO2 + 28 kkal
              asam piruvat                           etanol/alkohol

     

    6. Fermentasi merupakan suatu proses pemecahan molekul gula menjadi molekul yang lebih sederhana dengan menggunakan ....
    A. enzim dan oksigen
    B. enzim tanpa oksigen
    C. enzim
    D. oksigen
    E. karbondioksida

    Jawaban: B
    •    Karena pada fermentasi alkohol, asam piruvat mengalami dekarboksilasi (sebuah molekul CO2 dikeluarkan) dan dikatalisis oleh enzim alkohol dehidrogenase menjadi alkohol  dan terjadi degradasi molekul NADH menjadi NAD+ serta membebaskan energi/kalor. Proses ini berlangsung tanpa menggunakan oksigen bebas sebagai penerima atom hidrogen (H) terakhir.

     

    7. Pada metabolisme glukosa, proses penguraian karbohidrat menjadi laktat tanpa melibatkan O2 terjadi melalui peristiwa ….
    A. fermentasi
    B. glikolisis
    C. glikolisis anaerob
    D. respirasi
    E. bio-energi


    Jawaban: B
    •    Proses fermentasi asam laktat dimulai dari lintasan glikolisis yang menghasilkan asam piruvat. Karena tidak tersedianya oksigen maka asam piruvat akan mengalami degradasi molekul (secara anaerob) dan dikatalisis oleh enzim asam laktat dehidrogenase dan direduksi oleh NADH untuk menghasilkan energi dan asam laktat.

    8. Berikut ini merupakan hasil dari kegiatan metabolisme pada organisme hidup Pada fermentasi yang dilakukan saccharomyces diperoleh hasil .....


    1. ATP                          5. etanol
    2. asam asetat              6. O2
    3. asam piruvat             7. CO2
    4. glukosa


    A. 1, 4, dan 5
    B. 1, 5, dan 7
    C. 2, 4, dan 6
    D. 3, 4, dan 7
    E. 3, 5, dan 6

    Jawaban: B
    •    Fermentasi yang dilakukan saccharomyces adalah fermentasi alkohol. Hasil yang diperoleh dari fermentasi alkohol tersebut ialah ATP, Etanol dan CO2.

    9. Hasil yang diperoleh dari fermentasi asam laktat dan fermentasi alcohol masing-masing adalah…

    A. asam susu dan methanol
    B. asam laktat dan alcohol
    C. Asam cuka dan fenol
    D. asam susu dan fenol
    E. asam cuka dan methanol


    Jawaban: B
    •    Berdasarkan hasil reaksi:
    2CH3COCOOH ----------> 2CH3CHOHCOOH   + 47  kkal        
            asam piruvat                       asam laktat
    2CH3COCOOH ----------> 2CH3CH2OH + 2CO2 + 28 kkal
              asam piruvat                           etanol/alkohol

    10. Sel ragi dapat melakukan fermentasi karena mengandung.....

    A. Alkohol
    B. Enzim
    C. Karbohidrat
    D. Glukosa
    E. Asam


    Jawaban: D
    •    Karena Pada respirasi anaerob, tahapan yang ditempuh meliputi :
    Ragi dapat melakukan fermentasi alkohol karena mengandung karbohidrat. Dimana karbohidrat ini akan melalui tahapan glikolisis, dimana 1 molekul glukosa (C6) akan diuraikan menjadi asam piruvat, NADH dan 2 ATP. Kemudian melalui tahap pembentukan alkohol ( fermentasi alkohol) dan akseptor elektron terakhir bukan oksigen, tetapi senyawa lain yaitu alkohol. Energi (ATP) yang dihasilkan dari proses ini sekitar 2 ATP.


    Pelindung dan Pengairan Tanaman

     Pelindung Tanaman 

    Pengenalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Cabai Merah, Tomat & Mentimun

    Perlindungan tanaman, harus dilaksanakan sesuai dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT), menggunakan sarana dan cara yang tidak mengganggu kesehatan manusia, serta tidak menimbulkan gangguan dan kerusakan lingkungan hidup. Perlindungan tanaman dilaksanakan pada masa pratanam, masa pertum- buhan tanaman dan/atau masa pascapanen, disesuaikan dengan kebutuhan.

    Standar pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) 

    a. Tindakan pengendalian OPT dilaksanakan sesuai anjuran. Penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir apabila cara-cara yang lain dinilai tidak memadai. 

    b. Tindakan pengendalian OPT dilakukan atas dasar hasil pengamatan terhadap OPT dan faktor yang mempengaruhi perkembangan serta terjadinya serangan OPT. 

    c. Penggunaan sarana pengendalian OPT (pestisida, agens hayati, serta alat dan mesin), dilaksanakan sesuai dengan anjuran baku dan dalam penerapannya telah mendapat bimbingan/latihan dari penyuluh atau para ahli di bidangnya. 

    d. Dalam menggunakan pestisida, petani harus sudah mendapat pelatihan.

     Pestisida adalah pengendali OPT yang  menyebabkan penurunan hasil dan kualitas tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung, namun efektif terhadap OPT yang menyerang. Pestisida terdiri atas pestisida hayati maupun pestisida buatan.  Petisida yang digunakan harus pestisida yang telah terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk tanaman yang bersangkutan. 

    Organisme Pengganggu Tanaman (opt)

    Penyimpanan pestisida pun harus memenuhi persyaratan sebagai berikut. 

    a. Pestisida harus disimpan di tempat yang baik dan aman, berventilasi baik, dan tidak bercampur dengan material lainnya. 

    b. Harus terdapat fasilitas yang cukup untuk menakar dan mencampur pestisida 

    c. Tempat penyimpanan sebaiknya mampu menahan tumpahan (antara lain untuk mencegah kontaminasi air).

    d. Terdapat fasilitas untuk menghadapi keadaan darurat, seperti tempat untuk mencuci mata dan anggota tubuh lainnya, persediaan air yang cukup, pasir untuk digunakan apabila terjadi kontaminasi atau terjadi kebocoran. 
    e. Akses ke tempat penyimpanan pestisida terbatas hanya kepada pemegang kunci yang telah mendapat pelatihan. 
    f. Terdapat pedoman atau tata cara penanggulangan kecelakaan akibat keracunan pestisida  yang terletak pada lokasi yang mudah dijangkau. 
    g. Tersedia catatan tentang pestisida yang disimpan. 
    h. Semua pestisida harus disimpan dalam kemasan aslinya. 
    i. Tanda-tanda peringatan potensi bahaya pestisida diletakkan pada pintu-pintu masuk.

    Risiko bahaya yang dimiliki oleh pestisida dilakukan dengan analisis residu pestisida 
    a. Analisis residu pestisida mengacu pada penilaian risiko. 
    b. Hasil analisis dapat ditelusuri kepada lokasi produk. 
    c. Pemerintah melakukan pengambilan contoh dan menganalisis residu, penanam dan/atau pemasok pestisida mampu memberikan bukti hasil pengujian pestisida. 
    d. Laboratorium yang digunakan untuk analisis residu merupakan lembaga yang telah memperoleh akreditasi atau lembaga yang telah ditunjuk oleh menteri. 

    Pengairan 
    Membentuk Irigasi untuk Keseimbangan Pengairan Lahan Pesawahan - PETANI
    Setiap budidaya tanaman pangan hendaknya didukung dengan penyediaan air sesuai kebutuhan dan peruntukannya. Air hendaknya dapat disediakan sepanjang tahun, baik bersumber dari air hujan, air tanah, air embun, tandon, bendungan ataupun sistem irigasi/pengairan. Air yang digunakan untuk irigasi memenuhi baku mutu air irigasi, dan tidak menggunakan air limbah berbahaya. Air yang digunakan untuk proses pascapanen dan pengolahan hasil tanaman pangan memenuhi baku mutu air yang sehat. Pemberian air untuk tanaman pangan dilakukan secara efektif, efisien, hemat air dan manfaat optimal.  Apabila air irigasi tidak mencukupi kebutuhan tanaman guna pertumbuhan optimal, harus diberikan tambahan air dengan berbagai teknik irigasi. Penggunaan air pengairan tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat di sekitarnya dan mengacu pada peraturan yang ada. 

    Pengairan tidak boleh mengakibatkan terjadinya erosi lahan maupun tercucinya unsur hara, pencemaran lahan oleh bahan berbahaya, dan keracunan bagi tanaman serta lingkungan hidup. Kegiatan pengairan sebaiknya dicatat sebagai bahan dokumentasi. Penggunaan alat dan mesin pertanian untuk irigasi/penyediaan air dari sumber, harus memenuhi ketentuan sesuai peraturan perundang-undangan dan dapat diterima oleh masyarakat.

    VAKSIN

      Definisi dan Ringkasan Vaksin merupakan salah satu cara terpenting dan tepat guna untuk mencegah penyakit dan menjaga kondisi tubuh. Vaksi...